BEKASI- Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terus mematangkan rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan melakukan studi tiru ke China. Salah satu fasilitas yang dikunjungi adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) milik Wangneng Environment di Kota Huzhou, yang dikenal sebagai salah satu perusahaan pengelola sampah berbasis teknologi waste to energy.
Kunjungan kerja tersebut dipimpin langsung Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, bersama Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi. Turut serta dalam rombongan jajaran Komisi II DPRD, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, serta perwakilan tokoh masyarakat Bantargebang. Rombongan bertolak ke China pada Jumat (26/6/2026) sebagai bagian dari upaya memperdalam pemahaman mengenai teknologi konversi sampah menjadi energi listrik.
Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan tahapan penting sebelum pembangunan fisik proyek PSEL dimulai. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan perlu memahami secara langsung bagaimana sistem pengolahan sampah modern bekerja, mulai dari penerimaan sampah, proses pembakaran, pengendalian emisi, hingga pemanfaatan hasilnya menjadi energi listrik.
"Kami ingin seluruh proses pembangunan PSEL berjalan secara terbuka dan dipahami bersama. Dengan melihat langsung fasilitas yang telah beroperasi, masyarakat maupun para pemangku kepentingan dapat memperoleh gambaran utuh mengenai manfaat teknologi ini, standar operasional yang diterapkan, hingga aspek perlindungan lingkungannya," ujar Kiswatiningsih.
Ia menegaskan, kehadiran unsur pemerintah, legislatif, serta perwakilan masyarakat dalam satu rombongan menjadi bentuk transparansi sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap proyek strategis tersebut. PSEL diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan utama Kota Bekasi.
Lebih lanjut, Kiswatiningsih memastikan seluruh biaya kunjungan kerja tersebut tidak menggunakan anggaran pemerintah daerah. Pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh Wangneng Environment selaku Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) yang telah ditetapkan dalam proyek PSEL Kota Bekasi.
"Seluruh biaya kegiatan menjadi tanggung jawab Wangneng sebagai BUPP sehingga tidak membebani APBD Kota Bekasi," jelasnya.
Bantargebang Diproyeksikan Berubah Menjadi Kawasan Hijau
Sementara itu, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan pembangunan PSEL bukan hanya bertujuan menghadirkan teknologi pengolahan sampah modern, tetapi juga menjadi langkah besar mentransformasi kawasan Bantargebang.
Selama puluhan tahun, Bantargebang dikenal sebagai lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di Indonesia. Ke depan, pemerintah ingin mengubah citra tersebut menjadi kawasan berbasis inovasi lingkungan dan ekonomi hijau.
"Kami ingin mengubah stigma masyarakat terhadap Bantargebang. Tidak lagi dikenal sebagai tempat pembuangan sampah semata, melainkan menjadi pusat inovasi lingkungan yang mampu mengolah sampah menjadi energi, membuka peluang usaha baru, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar," kata Tri.
Menurutnya, keberadaan PSEL nantinya akan menjadi fondasi pengembangan kawasan ekonomi berbasis lingkungan yang mampu memberikan nilai tambah dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki manfaat.
Dorong Pengembangan Industri Berbasis Ekonomi Sirkular
Selain menghasilkan listrik, Pemkot Bekasi juga menyiapkan pengembangan industri turunan berbasis ekonomi sirkular. Salah satunya melalui pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), yaitu residu hasil proses pengolahan sampah menjadi energi.
Material FABA tersebut direncanakan diolah menjadi berbagai produk konstruksi bernilai ekonomi seperti bahan bangunan dan produk pendukung infrastruktur. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi limbah, meningkatkan nilai tambah hasil pengolahan sampah, sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
"Kami membayangkan Bantargebang berkembang menjadi kawasan ekonomi lingkungan. Ada PSEL yang menghasilkan listrik, ada industri pengolahan FABA yang menciptakan produk bernilai ekonomi, serta aktivitas riset dan inovasi lingkungan sehingga manfaatnya tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat," ujar Tri.
Ia menambahkan, transformasi tersebut diharapkan mampu menjadikan Bantargebang sebagai contoh sukses pengelolaan sampah modern di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi, energi bersih, industri hijau, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Dulu orang mengenal Bantargebang karena gunungan sampahnya. Ke depan, kami ingin Bantargebang dikenal sebagai simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan modern, tempat lahirnya energi bersih, inovasi teknologi, dan pusat pertumbuhan ekonomi hijau di Kota Bekasi," tuturnya.
Pemkot Bekasi menargetkan proses peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan PSEL dapat dilaksanakan pada awal Juli 2026. Proyek tersebut direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai salah satu proyek strategis nasional di bidang pengelolaan sampah dan energi terbarukan.(red/lis)
0 Komentar