Ribuan Warga Padati Ritual Kebo-keboan Alasmalang, Wisata Budaya dan Ekonomi Desa Bergeliat

  

Ribuan warga padati ritual Kebo-keboan Alasmalang, tradisi leluhur yang menghidupkan ekonomi desa.(photo by radar banyuwangi)


BANYUWANGI- Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Banyuwangi maupun daerah lain di Jawa Timur memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pada Minggu (28/6/2026), untuk menyaksikan kemeriahan ritual adat Kebo-keboan. Tradisi turun-temurun yang digelar setiap awal Bulan Suro tersebut kembali menjadi daya tarik wisata budaya yang tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa.

Sejak pagi hari, kawasan simpang empat di depan Balai Dusun Krajan yang menjadi pusat pelaksanaan ritual telah dipenuhi ribuan pengunjung. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Mereka rela datang dari berbagai daerah demi menyaksikan secara langsung salah satu tradisi adat paling ikonik di Banyuwangi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ramainya pengunjung turut menghidupkan aktivitas ekonomi warga. Di sepanjang ruas jalan desa, ratusan pedagang memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak yang menjajakan beragam kuliner khas Banyuwangi, makanan tradisional, minuman, cendera mata, hingga berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perputaran ekonomi selama pelaksanaan ritual berlangsung meningkat signifikan, sehingga tradisi ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat setempat.

Kepala Desa Alasmalang, Abdul Munir, menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan ritual Kebo-keboan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai spiritual, sosial, sekaligus ekonomi. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan harapan agar musim tanam berikutnya diberikan hasil yang melimpah.

"Ritual ini adalah bentuk ikhtiar masyarakat kepada Tuhan dan mengandung makna yang baik. Kami siap mendukung penuh demi suksesnya kegiatan adat yang sudah berjalan secara turun-temurun ini," ujarnya di sela pelaksanaan kegiatan.

Sebelum memasuki prosesi utama, seluruh rangkaian ritual diawali dengan tradisi makan tumpeng bersama. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, perangkat desa, tokoh masyarakat, sesepuh adat, hingga warga duduk berdampingan menikmati hidangan sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur. Suasana hangat penuh kekeluargaan tampak begitu terasa ketika seluruh elemen masyarakat berbaur tanpa memandang status maupun latar belakang.

Prosesi inti kemudian dimulai dengan menghadirkan suasana yang semakin semarak sekaligus sarat nuansa magis. Puluhan pemuda yang telah berdandan menyerupai kerbau memasuki arena ritual. Tubuh mereka dilumuri cairan hitam pekat, dilengkapi tanduk buatan di kepala serta lonceng yang menggantung di leher sehingga menyerupai kerbau yang biasa digunakan membajak sawah.

Dengan gerakan yang lincah, para peserta menirukan perilaku kerbau saat mengolah lahan pertanian. Mereka berlari, menari, berguling di jalan, bahkan berinteraksi langsung dengan ribuan penonton yang memadati lokasi. Sesekali para peserta mengusapkan warna hitam yang melekat di tubuh mereka ke wajah pengunjung yang berada di pinggir jalan. Aksi tersebut justru disambut riuh gelak tawa, sorak-sorai, dan antusiasme masyarakat yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.

Kemeriahan ritual semakin lengkap dengan hadirnya iring-iringan perempuan petani yang mengenakan pakaian adat Suku Osing. Mereka berjalan membawa wakul berisi berbagai hasil bumi, seperti padi, sayuran, dan hasil panen lainnya. Arak-arakan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan hasil pertanian sekaligus doa agar masyarakat kembali memperoleh panen yang melimpah pada musim tanam berikutnya.

Dalam filosofi masyarakat Desa Alasmalang, kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan sahabat petani yang memiliki peran penting dalam kehidupan agraris. Kerbau melambangkan kekuatan, ketekunan, kesetiaan, dan semangat bekerja keras dalam mengolah sawah. Karena itulah, ritual Kebo-keboan menjadi bentuk penghormatan kepada alam, Sang Pencipta, serta pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, lingkungan, dan tradisi.

Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak abad ke-18 ini hingga kini tetap bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. Kebo-keboan tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Banyuwangi, tetapi juga berkembang menjadi atraksi wisata budaya yang mampu menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya. Kehadiran para pengunjung memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, kuliner, jasa, hingga pariwisata desa.

Perpaduan antara nilai spiritual, kearifan lokal, pelestarian budaya, dan manfaat ekonomi menjadikan ritual Kebo-keboan Alasmalang sebagai salah satu tradisi paling autentik di Banyuwangi. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya leluhur tidak hanya layak dijaga, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi berbasis budaya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(red/lis)

0 Komentar